The Workshop of Living Lab Sustainable Peat 8-9 July 2019

    0
    572

    PHLB ULM, Banjarbaru – Padatanggal  8-9 Juli 2019, PUI PT PHLB ULM (Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen: Hutan & Lahan Basah Universitas Lambung Mangkurat) atau dalam bahasa Inggris disebut CINOTECOM FORWE LMU (Center of Innovation, Technology, Commercialization, Management: Forest & Wetlands , Lambung Mangkurat University) menyelenggarakan workshop dengan tema “Living Lab Peatlands in Kalimantan”.  Kegiatan ini merupakan kerjasama  antara Universitas Lambung Mangkurat, dalam hal ini PUI PT phlb Dengan Van Hall Larenstein University of Applied Science Netherland, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta PORDEA. Perserta dalam kegiatan workshop ini terdiri dari akademisi, mahasiswa, KPH, pemerintah, peneliti, dan swasta.  Dari akademisi antara lain para peneliti dari  Van Hall Larenstein University of Applied Science; Dr. Ir. Peter van de Meer, Dr.AnnelisHeijman, Dr.Joline, dari ULM Prof. Dr. Ir. Yudi Firmanul Arifin, M.Sc., SitiHamidah, S.hut., M.P., Dr.Fakhrul Razie,  dari Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan antara lain perwakilan dari BP2LHK Banjarbaru  yang diwakili oleh: Dony   Rachmanadi, Tri Wira Yuwati;Puslitbanghut Bogor oleh Hesti  L Tata, serta beberapa  perwakilan KPH Kapuas; beberapa perwakilan dosen dari Fakultas Kehutanan ULM, antara lain: Prof. Basir, Dr. Wahyuni Ilham, Dr. Kissinger dan beberapa  mahasiswa Fakultas Kehutanan ULM , serta perwakilan dari swasta yang diwakili oleh  Ihsan Noor dari perusahaan tambang PT. JBG.

    Dalam worshop ini dibahas mengenai upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi dari lahan gambut dan upaya untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran gambut, serta pelestarian gambut dengan mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘Living Lab”. Istilah “Living Lab” mungkin di daratan Eropa bukan merupakan hal yang baru, tetapi sudah menjadi hal yang biasa dan umum diperbincangkan dikalangan akademisi.  Living Lab atau diistilahkan dengan laboratorium hidup adalah konsep penelitian yang merupakan konsep ekosistem inovasi terbuka yang berpusat  pada pengguna, sering beroperasi dalam konteks kota, aglomerasi, wilayah dengan memadukan penelitian bersama dan proses inovasi.  Konsep ini didasarkan pada pendekatan kreasi bersama pengguna yang sistematis yang mengintegrasikan antara proses penelitian dan inovasi.  Pada workshop ini yang menjadi objek adalah lahan gambut yang sering kali pada musim kemarau panjang terjadi kebakaran. Oleh karena itu pada hari kedua diadakan kegiatan fieldtrip dengan meninjau salah satu lahan gambut yang ada di kawasan Landasan Ulin Utara, mengunjungi kelompok tani yang giat dalam pengelolaan gambut di Kelompok Tani Sukamaju, serta kampung purun. Selanjutnya hasil dari tinjauan lapangan tersebut didiskusikan kembali oleh tim.

    Hasil dari workshop ini diperoleh visi dan  kesepakatan bersama yaitu “from wasteland to valuable land” bagaimana menjadikan lahan gambut yang terlantar dari kurang bernilai ekonomi menjadi lahan yang bernilai ekonomi dengan pendekatan ekologi, ekonomi dan social, serta teknis pemilihan jenis tanaman baik tanaman pertanian maupun kehutanan dengan pendekatan paludikultur, dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem, land tenure, didukung dengan law enforcement, sehingga status tanah jelas dan penegakan hukum. Issue yang akan diangkat nanti meliputi: 1. How to rennet (water retension of peat), 2. What  are suitable crops, 3. Land tenure, 4. Social culture on land management, 5. Market aviability dan 6. Missing knowledge on ecosystem service contribution of different systems/ Landscape scale.

    Hasil workshop ini nanti selanjutnya dipresentasikan kembali tanggal 11-12 Juli 2019 di UGM Jogjakarta untuk dibahas bersama dengan living lab lainnya, seperti living lab water di Jatim, Jateng dan NTT.  Dari workshop di Jogjakarta ini akan dilanjutkan dengan usulan proposal penelitian yang diusulkan kepada lembaga-lembaga donor internasional untuk memperoleh funding.

    Sumber: pubdok-phlb-ulm (PHLB-ULM/WEB-B3(2) & B8 / 07-2019)