EKSPLORASI SUMBERDAYA LOKAL POTENSIAL LOKSADO – HSS – KALSEL

    0
    510

    EKSPLORASI

    SUMBERDAYA LOKAL POTENSIAL LOKSADO- HSS- KALSEL

    Loksado, 13-15  April 2018

    Dalam rangka pengembangan produk inovasi berbasis sumberdaya lokal, sebagai salah satu target capaian PHLB-ULM (Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen: Hutan & Lahan Basah- Universitas Lambung Mangkurat), khususnya dalam aspek Komersialisasi dan Pemanfaatan Riset, maka pada tanggal 13-15 April 2018 yang lalu, Tim PHLB ULM melakukan “Eksplorasi Sumberdaya Lokal Potensial dari Wilayah Loksado, HSS Kalsel”.

    Loksado dipilih karena merupakan salah satu dari wilayah yang berada pada pegunungan Meratus, dimana pegunungan ini merupakan kawasan hutan alami yang tersisa di Propinsi Kalsel, dan merupakan penyumbang  tingginya biodiversitas atau keanekaragaman hayati Indonesia bahkan dunia.  Loksado sebagai salah satu area yang masuk dalam kawasan Pegunungan Meratus merupakan area yang kaya dengan sumber daya alam hayati, 12 jenis tumbuhan endemik ada di daerah ini, dua diantaranya adalah keluarga palmae dan  Rhododendron alborugosum.  Tidak kurang dari 31 jenis mamalia, 95 jenis avifauna, 46 jenis kupu-kupu, 24 jenis harpetofauna, dan 37 jenis ikan juga ditemukan di wilayah ini . Selain itu, diyakini kawasan ini merupakan surganya anggrek (10% jenis anggrek dunia ada di Loksado, Lamb (1991). Meskipun demikian ekosistemnya sangat ringkih dan sensitive sehingga harus hati-hati dalam merencanakan pembangunan di wilayah ini.

    Selain keanekaragaman hayatinya, potensi HHBK juga  cukup melimpah. Berdasarkan hasil eksplorasi, selain karet, kayu manis,kemiri, beberapa jenis tumbuhan obat, bambu dan madu merupakan hasil hutan yang paling banyak dihasilkan dan menjadi sumber pendapatan masyarakat.  Meskipun demikian pemanfaatan belum maksimal dan hampir semuanya masih dijual dalam bentuk mentah.  Di Desa Loklahung (Malaris) pengolahan sederhana hanya pada kayu manis yang dibuat sirup namun masih dalam skala produksi yang terbatas dan belum ditangani dengan sungguh-sungguh karena masih banyak yang dijual dalam bentuk mentah, demikian juga dengan kemiri yang masih dijual mentah Di Kecamatan Malinau banyak tumbuhan obat yang telah diakui berkhasiat obat dan dipergunakan secara turun temurun, bahkan sudah ada yang diperjualbelikan dalam bentuk simplisia, namun belum ada pengolahan lanjutan dan usaha budidayanya.

    Potensi lain yang tidak kalah melimpah adalah bambu (± 2.000 hektare). Bambu di kawasan Pegunungan Meratus biasanya terdapat di bekas-bekas ladang dan kadang bersama mengisi relung yang ada dengan tanaman perkebunan lainnya seperti kayumanis dan karet. Hal ini berhubungan erat dengan kearifan tradisonal masyarakat adat di kawasan ini. Berbagai macam bambu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai macam kepentingan juga, dari pemanfaatan untuk kerajinan, peralatan dapur bahkan untuk kelengkapan upacara ritual aruh adat. Dengan pemanfaatan seperti ini bambu adalah komponen penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak, karena hampir setiap aktivitas kehidupan masyarakat Dayak menggunakan unsur bambu untuk mendukung kehidupannya. Selain itu bambu menjadi alat transportasi untuk bamboo rafting yang merupakan salah satu agenda wisata dari daerah ini. Terdapat 17 jenis bambu di Loksado dengan luasan area yang sangat besar (R. Udur, 2002);  ada 13 jenis bambu yang tersebar pada berbagai ketinggian tempat dari 3 Kecamatan (Kecamatan Loksado, Padang Batung dan Kalumpang). Kearifan budaya lokal ini yang membuat keberadaan bambu terjaga.

    Sehubungan dengan program pengembagan pariwisata, pada tahun 2018 ini akan mulai dikembangkan Desa Seribu Bambu, di Desa Lumpangi Kecamatan Loksado yang dulunya juga pernah menjadi lokasi pengembangan budidaya bambu seluas 25 Ha oleh KTH Mantatai yang di prakarsai oleh BPDASHL Barito pada tahun 2011. Pada tahun ini akan dilanjutkan pengembagannya oleh BPDASHL Barito, dengan penanaman bambu seluas 200 Ha dalam wilayah kelola KPH Hulu Sungai.Diharapkan adanya pengembangan tempat wisata baru ini akan meningkatkan potensi pariwisata di Loksado.  Dalam rencana tata ruang Wilayah Kabupaten HSS sesuai Perda No: 3 Tahun 2014, hampir semua kawasan untuk pariwisata alam berada di Loksado.

    Dalam rangka mendukung program pemerintah daerah dalam pengembangan kawasan wisata Loksado ini, PHLB-ULM diharapkan berperan serta khususnya dalam pengembangan produk inovasi berbasis sumberdaya lokal khususnya dari Loksado, sehingga nantinya para wisatawan dapat menikmati produk-produk khas Loksado, dimana saat ini hanya pemandangan alam saja yang baru bisa dinikmati.  Hal ini selain ikut mendukung program pengembangan wisata tersebut, juga secara tidak langsung dengan banyaknya produk inovasi berbasis sumberdaya lokal khususnya yang berbasis hasil hutan bukan kayu akan ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, dan secara otomatis keberadaan hutan lindung atau hutan tropis di wilayah Pegunungan Meratus akan ikut terjaga kelestariannya, karena keberadaan hasil hutan bukan kayu sangat tergantung oleh adanya pohon atau ekosistem hutannya yang masih terjaga.  “Masyarakat sejahtera hutan akan terjaga” atau “Hutan terjaga maka masyarakat akan sejahtera”.

    Beberapa inovasi yang akan dikembangkan adalah: 1) diversifikasi pengolahan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang berasal dari Loksado menjadi produk komersial; seperti menjadi minuman instant dengan kemasan praktis (sirup, kopi, teh), yang siap dikonsumsi oleh para wisatawan, pengembangan kerajinan  dan material maju berbahan bambu, pengembangan minyak dan produk olahan dari biji kemiri 2) pengembangan sumber pangan dengan pola agroforestry pada perkebunan rakyat, seperti beras gunung,yang merupakan beras yang dihasilkan dari ladang para petani, yang ditanam diantara tanaman perkebunan (karet, kayu manis, sawit dll), 3) inovasi pengembangan tumbuhan obat (terutama tumbuhan obat endemik yang hanya ditemukan di wilayah tersebut) di luar habitatnya (eksitu),  dll.

    Hasil eksplorasi ini diharapkan dapat sebagai acuan atau dasar bagi pemilihan produk hasil hutan yang akan dikembangkan,sehingga nantinya dapat dihasilkan produk potensial berbsis sumberdaya lokal, produk yang dilisensikan, serta pada akhirnya dapat dikembangkan unit bisnis yang menanganinya dan membina UMKM yang ada di masyarakat.

    Sumber: pubdok-phlb-ulm (PHLB-ULM/UM-WEB/01-A3-02/ 04-2018)