PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU & LAHAN BASAH

    0
    698

    DLH Kabupaten Banjar/ 9 September 2021.  Salah satu tim peneliti PHLB sekaligus sekertaris PHLB (Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen, Hutan & Lahan Basah) dan IBT (Inkubator Bisnis Teknologi) ULM (Universitas Lambung Mangkurat), Siti Hamidah, S.Hut, M.P., mendapat kesempatan sebagai salah satu nara sumber dalam acara “Rapat Terbatas Implementasi Konsep Produksi Bersih Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar” yang diselenggarakan oleh DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Banjar pada tanggal  9 September 2021, bertempat di aula DLH Kabupaten Banjar.  Pada kesempatan ini narasumber dari PHLB & IBT ULM menyampaikan konsep dan program “ Penerapan Produksi Bersih pada Pengembangan Produk Berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu & Lahan Basah” yang telah dan akan dilakukan oleh PHLB & IBT ULM. Sebagaimana diketahui PHLB ULM saat ini banyak mengembangkan produk hasil riset berbasil HHBK & Lahan Basah.  Demikian juga di IBT ULM para tenant telah banyak mengembangkan beberapa produk yang mendukung konsep produksi Bersih. Salah satunya adalah mesin portable penjernih air gambut dan air limbah yang diproduksi oleh CV. Smart Water (salah satu tenant binaan IBT ULM)  yang beberapa tahun terakhir mendapat binaan dari Kemenristekdikti melalui program PPBT (Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi). Produk yang dihasilkan ini dapat mendukung konsep produksi bersih khususnya dalam meminimalisir limbah dan penggunaan sumberdaya air, minimalisir kerusakan lingkungan atau efisiensi penggunaan sumber daya alam.

    Sementara itu konsep produksi bersih juga diterapkan oleh PHLB ULM dalam menghasilkan produk-produk hasil hutan bukan kayu dan lahan basah berbasis riset, yang sebagian besar menggunakan bahan baku hasil hutan bukan kayu, yang kita ketahui bersama sebagian besar justru mensyaratkan lingkungan yang terjaga untuk menopang hidupnya karena sebagian besar HHBK ini tergantung dari kelestarian pohon induk (pepohonan) maupun vegetasi dan lingkungan yang terjaga untuk dapat mendukung pertumbuhannya. Oleh karena itu bahan baku berbasis HHBK akan sangat minim kerusakan lingkungan (jusrtu sebaliknya lingkungan harus terjaga), dan pepohan sebagai penopang pertumbuhannya menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon.  Prinsip pemanfaatan yang diterapkan zero waste (semua bagian termanfaatkan)melalui diversifikasi produk juga  mampu mengurangi produksi sampah dan biaya produksi yang rendah (cost effective).  Setiap produk yang dibuat dari HHBK tertentu, dimanfaatkan seoptimal mungkin bahkan sampai ke pengolahan limbahnya. Selanjutnya dalam proses dan metode, sebagian besar mempergunakan metode sederhana, minim penggunaan energy dan air, minim bahkan tidak ada pemakaian bahan kimia, sehingga dalam proses ini sangat minim resiko. Produk-produk yang dihasilkan ramah lingkungan dan minim resiko baik terhadap kerusakan lingkungan maupun terhadap kesehatan manusia. Dalam kesempatan ini diulas lebih dalam mengenai pengembangan produk HHBK dalam mendukung kesehatan manusia, seperti riset pengembangan dan pembuatan aneka produk berbasis Sungkai, salah satunya teh Sungkai yang berkhasiat untuk meningkatkan imun tubuh dan meringankan gejala demam dan flu dimana saat ini sangat diperlukan pada masa pandemi Covid-19 ini.  Demikian pula produksi madu pahit berbasis bunga sungkai yang diharapkan juga mendukung program kesehatan masyarakat dalam masa pandemi ini.

    Berdasarkan penjelasan tersebut maka konsep pengembangan produk berbasis HHBK maupun lahan basah yang telah dilakukan oleh para tenant di IBT ULM maupun pada unit bisnis PHLB ULM memenuhi kriteria dan mampu mendukung konsep produksi bersih, seperti yang tertuang dalam UNEP (1999), UNEP (2003),dan KLH (2003).

    Sumber: pubdok-phlb-ulm (PHLB-ULM/WEB –C3 / 09-2021)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here