31 C
Banjarbaru
Wednesday, July 28, 2021

Pameran dalam Acara : Kontes Durian & Gelar Buah Eksotik Banjar Mandikapau Barat, Karang Intan Kabupaten Banjar

PHLB ULM (Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen: Hutan & Lahan Basah), dulunya bernama : PUI PT KR PHTB (Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Konsorsium Riset Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan) Universitas Lambung Mangkurat , ikut berperan aktif dalam acara Kontes Durian & gelar Buah Eksotik Banjar, yang diselenggarakan di Desa Mandikapau Barat, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar, pada Hari Selasa, tanggal 22 Januari 2018. Dalam acara yang dibuka langsung oleh Bupati Banjar (H. Khalilurrahman) dan dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Selatan ( H. Sahbirin Noor), PHLB ULM menampilkan beberapa produk unggulan hasil inovasi yang telah dilakukan selama ini.  Peran serta PHLB ULM ini dalam rangka memperkenalkan berbagai inovasi, khsususnya dalam pemanfaatan dan pengolahan hasil hutan bukan kayu, baik yang berasal dari hutan tropis maupun lahan basah.  Diseminasi hasil-hasil riset dan pengembangan produk yang telah berhasil dilakukan oleh PHLB ULM ini dimaksudkan agar masyarakat luas termasuk masyarakat desa dapat mengetahuinya.

Sinergi antara PHLB ULM selaku salah satu lembaga inovasi yang dimiliki oleh ULM dengan program yang ada di desa, salah satunya program desa untuk menciptakan produk unggulan desa sudah seharusnya dimulai.  PHLB ULM mempunyai target kerja dalam bidang commercializtion an Implementation salah satunya adalah pengembangan produk berbasis sumber daya lokal dan produk yang dilisensikan.  Sementara itu untuk mendukung percepatan pembangunan desa, Kemendes PDTT telah menetapkan empat program prioritas. Diantara Empat program tersebut yakni pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), dan pengembangan  Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).  Mandikapau Barat dan desa-desa lain di Kabupaten Banjar mempunyai banyak potensi untuk pengembangan produk unggulan dan BUMDEs, salah satunya di Desa Mandikapau Barat ini.  Desa ini sedang mengembangkan dan menggali potensi daerahnya untuk menjadi desa destinasi wisata.  Keindahan alam yang menjanjikan dan keseriusan aparat desa untuk mengembangkannya menjadi destinasi wisata perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.  Desa bisa memanfaatkan dana desa yang diperoleh dari pemerintah untuk mengembangkan BUMDES dan mengembangkan produk unggulan desa ini, sehingga nantinya potensi wisata juga didukung dengan penyediaan aneka souvenir dan buah tangan.  Pada akhirnya efek besarnya adalah pertumbuhan ekonomi desa karena program BUMDEs dan program unggulan kawasan pedesaannya berjalan. Dalam rangka bersinergi dengan program Kemendes PDTT inilah, PHLB ULM turun gunung ke desa-desa untuk mendiseminasikan hasil-hasil inovasi agar nantinya dapat membantu dan bersinergi dengan program pengembangan produk unggulan maupun BUMDEs yang ada di desa-desa.  Dalam amanah sambutan pembukaannya, Bupati Banjar juga menyinggung bagaimana sebaiknya desa memanfaatkan dana desa yang diterimanya, agar tidak hanya konsentrasi pada pembangunan infrastruktur yang dipergunakan untuk meningkatkan kualitas hidup namun juga infrastruktur dan kegiatan kegiatan produktif yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan perekonomian desa.

Selain itu tema kontes durian dan buah eksotik khas Banjar, juga sejalan dengan program PHLB ULM dalam rangka menunjang kelestarian hutan tropis dan lahan basah.  Kalimantan Selatan, termasuk Kabupaten Banjar kaya dengan buah-buah eksotis yang hanya ditemui di wilayah tertentu, dan sebagian besar dari buah-buah lokal yang sekarang sudah mulai sulit ditemui tersebut berasal dari hutan tropis dan lahan basah.  Upaya ataupun program pelestarian hutan dan tropis dan lahan basah, secara tidak langsung akan mendukung pelestarian dari buah-buah eksotis tersebut, sehingga buah ini tidak akan punah.  PHLB ULM mempunyai program untuk pengembangan buah-buah khas hutan dan lahan basah tersebut, baik program pengadaan bibit maupun pengolahan atau diversifikasi produk dari buah-buah tersebut.  Beberapa buah eksotis khas Kalsel dan sekarang mulai langka adalah : kepel (Stelechcarpus burahol), balangkasua/ginalun (Lapisanthes alata), gitaan/pitabu/tampirik (Willughbela angustifolia) dan masih banyak lagi lainnya.

Program pengembangan wisata dan buah eksotik Kalsel, sejalan dengan amanah Gubernur Kalsel dimana dalam sambutannya Gubernur Kalsel mengingatkan akan pentingnya revolusi hijau, dimana pengembangan dibidang pertanian, perkebunan, peternakan dan pariwisata alam dan sumberdaya hayati lain yang merupakan sumberdaya alam dapat diperharui diharapkan nantinya menjadi andalan bagi keberlanjutan industri di Kalsel, mengingat bahan tambang yang selama ini menjadi andalan Kalsel tidak akan bertahan lama lagi, karena sumberdaya tersebut tidak bisa diperbaharui.

Sumber: pubdok-phlb-ulm (PHLB-ULM/WEB-C7-01/ 01-2019)

Related Articles

SOSIAL MEDIA

6FansLike
121FollowersFollow
164SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Pengumuman